Kamis, 26 Januari 2012

wheter it's love ?


whether it's love ?
Mentari belum sepenuhnya meninggalkan senja, meskipun ia tinggal separuh menggantung di batas kota, pancaran sinarnya masih memberi goretan jingga keemasan di angkasa.

Citra masih manyun sejak setengah jam lalu, demi apa dia sudah menunggui kakaknya hampir satu jam karena nggak buruan njemput, Citra menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada oramg, hanya Inov yang masih ada di sampingnya, sekolahnya, SMU SEMESTA sudah mirip kuburan sekarang, bahkan satpamnya udah nytater motor beriap pulang, tinggal pak bon yang bakal setia tinggal di sekolah, huft!

"Gue anterin pulangbdeh Cit." Tawar Inov entah ke brapa kali karena seringnya ditolak Citra.
"Loe nggak mau nemenin gue lagi ya?" Wajah Citra yang kusut makin kusut.
"Yaa, tapi kakak lo datengnya jam brapa? Uda mau jam 6 nih, gerimis pula." Inov mulai senewen, lalu mulai menangkap rintik hujan dengan telapak tangan.
"Bentar lagi, yaya, Inov kan baik." Citra memang kerap membujuk orang dengan 'kan baik' bener-bener nggak kreatif.
"Yahh, itu mah senjata lo biar smua orang nurutin lo, grr." Jawab Inov pendek, Citra hanya meringis karna kartunya uda dibuka Inov.

ddrttt dddrrrttt .. Ripped Pants ost di kartun Spongebob Squarepants berkoar di hp Citra.
Air muka Citra berangsur gregetan, kedua kakinya menginjak-injak bumi yang sama skali nggak salah karena sms yang baru aja masuk di handphone Citra. Inov lansung merebut handphone di genggaman Citra.
"Pulang sendiri, kakak nggak bisa jemput, lupa, lagi maen nih, angkot or bis, muahh." Inov bergeridik. "Bener kan kata gue, kakak lo lupa sama lo, lupa punya adek, lupa jemput." Inov menyerahkan handphone pada si pemilik, Citra hanya manyun menanggapi perkataan Inov yang asli nggak pake pikira.

"Dah, ayo gue anterin." Tawar Inov lagi.
"Nggak." Citra membuang muka.
"Beneran? Satu.. Dua...." Inov mengenakan helmet nya. "TIGAA, ADA SETANNN !!" Pekik Inov seketika. membuat Cira kaget sesaat lalu menghambur ke pelukan Inov."Ciee yang pengen tetep di sekolah, taunya takut setan, sana, ngapain peluk-peluk gue?"
"Siapa juga yang pengen meluk lo? Kaget tau?" Tatapan Citra lebih tajam sekarang, usai memeluk Inov, jarak yang terbentang nggak lebih dari 30cm. "Ayo pulang. Keburu ujan nih, ntar kalo tugas kelompok kita basah gimana? Kalo kita nggak lulius ulangan praktek gimana? Tahu sendirib gurunya killer gitu" Oceh Citra panjang lebar.
"Kok jadi lo yang sewot? Bukannya tadi lo yang uda cukup ngulur-ulur waktu, dan kenapa bukan gue yang lo kuatirin karna ujan? Malah tugas ilimiah kita?" Ucap Inov dengan kepedean tinggi.
"Nggak penting tuh,penting gue lulus ulangan praktek. Wlekk." Citra menjulurkan lidah.
Ayo pulanggg, haaaa." Citra mencubit lengan Inov.

Memang benar akhirnya hujan turun deras, untungnya Citra dan Inov sudah sampai rumah masing-masing dengan keadaan yang lumayan basah, sama aja sih sebenernya, hahaha.

****

Tanpa disadari, semua ini, tiap momen untuk berbagi, bercanda, momen untuk saling jahil membuat satu rasa itu kemudian tumbuh di benak keduanya. Yahh, meskipun rasa itu kerap diabaikan, tapi nyatanya ia tetap ada bersama mereka, mengisi semua tawa di sela hari mereka.

"Inov itu baik, dia care, dia lucu, dia nggak kaya cowok lain, dia itu friendly banget, kok gue jadi mikirin dia sih?" Citra memutar posisi tidurnya, kekanan, berguling, bahkan sekali jatuh di lantai, karna saking polahnya. "Haa? Jam 23.21. Sialan, besok gue bisa telat nih." Citra melirik jam dinding Spongebob di sudut kamarnya. Akhir kata, dengan pengauran posisi tidur yang susah payah dibuatnya bisa jadi formasi yang rapi, mulai selimut, banyal dan guling, dan itu mengantar jiwanya di pelabuhan mimpi dan membentuk pulau di bantalnya, atau orang menyebutnya ngeces.

****

Semilir bayu menyambut hati. berkas cahaya surya menembus kamarnya, membuatnya terusir dari dunia mimpi.
Sejak kejadian nganterin pulang 6 bulan lalu, perasaaan keduanya ternyata makin liar. Menyeruak, memenuhi ruang hati. Apa di kata? Cinta tengah melanda kedua anak manusia. Memungkiri perasaan, membohomgi hati bahwa tak ada rasa cinta, besih keras dengan argumen masing-masing sudah berjuta kali dilakukan, api tetap gagal mencabut panah asmara yang terlanjur menancap di relung keduanya. Inov, satu-satunya yang akan memulai.

****

"Mau ikut gue?" Ajak Inov seusai rapat buken (buku kenangan) suatu senja.
"Kemana? Takut nih."
"Balkon, sore-sore gini lkan anginnya asik."
"Balkon lantai dua? Katanya angker Nov, gue takut."
"Kan ada gue." Inov meraih jemari mungil Citra. Citra hanya menurut saja, berusaha mengimbangi langkah Inov yang panjang.

Sesampainya di balkon, Inov melepaskan tangannya, lalu berjalan mendahului. Terdengar hempas nafas yang berat keluar dari dalam dada Inov, karena beratna tekanan, dan smua rasa yang bergejolak.Citra mengikutinya, lalu berdiri disana, menikmati senja, burung camar menari jauh di sana, sepertinya tak ada kesediha, penuh kebahagiaan di sana.

"Bagus ya? anginnya enak banget, seger."
"Kayak lo."
"Ha? Kok bisa?"
"Lo kan penyegar hidup gue, lo yang bikin gue senyum tiap saat." Citra hanya manggut-manggut, masih menganggap kalo ini bukan bagian penembakan perasaan.
"Mataharinya keren." Puji Cita lagi.
"Lo nggak kalah kok, bagi gue lo yang termanis, dan paling keren di hati gue. Gue sayang lagi sama loe, sayaaangg banget. Jadi.." Kata-kata Inov berhenti sesaat. Inov meraih jemari Citra lagi, begitu erat.
"Jadi apanya?" Citra linglung.
"Jawab dongg."
"Apanya?" Citra bingung sama ocehan Inov tadi, Bener kan, dari tadi Inov cuma bilang kalo dia manis, lebih dari matahari, kalo dia sayang Citra, dan entah apa lainnya.
"Boleh nggak gue jadi cowok yang sama berartinya buat lo, jadi pacar lo." Inov memutar badannya, lau menatap bola mata Citra.

Citra tersentak sejenak, karna kaget, ini lebih cepat dari yang di duganya, tap mau perasaan di dustai apapun, tetap tak akan bisa. Citra menggangguk kecil. "Gue jugaa sayangg sama lo." Rona merah merambatii wajahnya.

PLONGGG , satu-satunya yang mendarat di lubuk Inov. Inov mengulur lengannya, memeluk tubuh Citra yang hanya setnggi telinganya.Senyuman tak bisa ditutupi karna bahagia yang menghinggapi nurani.

GLODAKK. Keduanya tersentak kaget kaena suara itu, takut kalo akan banyak orang yang akan melihat kejadian itu. Citra yang phobia nan berteriak, namun tangan Inov berhasil mredam suara Cita. Taklama, sampai tikus ukura sedang keluar dari pintu. Menyadari hanya tikus lah yang membut keributan, keduanya tertawa geli.

Inov mengelus puncak kepala Citra. "Thanks Cit." Inov tersenyum simpul, lalu memeluknya lagi, satu kecupan mendarat di kening Citra senja itu.Senja yang penuh arti. Di mana seluruh gejolak akhirnya lebur dalam satu ungkapan, dalam sebuah tawa, dan secangkir senyuman

*whether it's love?